Lima tahun yang lalu, saya memiliki sebuah kebiasaan sederhana yang tanpa saya sadari membentuk banyak hal dalam hidup saya. Setiap hari, selepas kerja dan setelah sampai di rumah untuk beristirahat sejenak, saya selalu menyempatkan diri pergi ke sebuah kafe. Bukan untuk hal besar. Bukan untuk bertemu klien. Bukan untuk nongkrong ramai-ramai. Hanya untuk duduk, memesan secangkir kopi atau teh, lalu menikmati waktu.
Yang unik, saya selalu duduk di posisi yang sama. Kursi yang sama. Meja yang sama. Hampir setiap hari, selama tiga tahun berturut-turut.
Awalnya, itu hanya soal kenyamanan. Posisi duduk itu terasa pas. Pencahayaannya cukup. Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi. Lama-kelamaan, kebiasaan itu berubah menjadi sebuah ritual pribadi. Sebuah jeda di antara hiruk pikuk pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Pelayan kafe bahkan sampai hafal dengan pesanan saya. Tanpa perlu banyak bicara, mereka sudah tahu apa yang biasa saya pesan. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan—bukan hanya dari kopi atau teh yang disajikan, tetapi dari perasaan “dikenal”. Dari kebiasaan kecil yang menjadi bagian dari rutinitas bersama.
Selama tiga tahun itu, saya belajar banyak hal.
Saya belajar tentang konsistensi. Tentang bagaimana sesuatu yang dilakukan berulang-ulang bisa membentuk ketenangan batin. Di tengah dunia yang serba cepat dan berubah, memiliki satu hal yang stabil setiap hari ternyata sangat menenangkan.
Saya belajar tentang ruang untuk diri sendiri. Duduk sendirian tidak selalu berarti kesepian. Justru di kursi itu, saya banyak berpikir. Mengevaluasi hari. Mengurai masalah. Merancang mimpi. Bahkan terkadang, hanya diam dan menikmati suasana.
Saya juga belajar tentang relasi sosial yang sederhana. Senyuman barista. Sapaan ringan dari pelayan. Tatapan singkat dengan pelanggan lain yang mungkin sama-sama lelah setelah bekerja. Tidak ada percakapan mendalam, tetapi ada rasa kebersamaan yang sunyi.
Dan yang paling penting, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Terkadang, ia hadir dalam rutinitas kecil yang dilakukan dengan sadar.
Kini, kebiasaan itu mungkin sudah tidak lagi saya jalani seperti dulu. Waktu berubah. Situasi berubah. Ritme hidup pun berubah. Namun kenangan tentang tiga tahun di kursi yang sama itu tetap menjadi bagian penting dari perjalanan saya.
Sebuah pengingat bahwa di tengah ambisi, target, dan tuntutan hidup, kita tetap membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak. Duduk. Menikmati secangkir minuman hangat. Dan berdamai dengan diri sendiri.
Karena sering kali, di tempat yang sederhana dan di kursi yang sama setiap hari, kita justru menemukan versi terbaik dari diri kita.
Khaoir
February 24, 2026 at 7:31 am
Concist is a key